Ukiran Garuda

Ukiran Garuda Kayu Desain Nasionalis Elegan Mewah Berkualitas Ukiran Garuda 2.5 Dimesi Ukuran 100 cm x 90 cm berbahan dasar kayu jati solid dengan desain nasionalis elegan mewah berkualitas, sangat cocok untuk mengisi ruang kantor, rumah, hotel instansi-instansi pemrintahan , memberikan suasana elegan nasionalis mewah modern pada kantor, rumah hotel, , Ukiran Garuda Produk Pengrajin […]

Add To Cart

Ukiran Garuda

00

Ukiran Garuda Kayu Desain Nasionalis Elegan Mewah Berkualitas Ukiran Garuda 2.5 Dimesi Ukuran 100 cm x 90 cm berbahan dasar kayu jati solid dengan desain nasionalis elegan mewah berkualitas, sangat cocok untuk mengisi ruang kantor, rumah, hotel instansi-instansi pemrintahan , memberikan suasana elegan nasionalis mewah modern pada kantor, rumah hotel, , Ukiran Garuda Produk Pengrajin Mebel Ukir Jepara Berkualitas Ukiran Garuda dikerjakan oleh pengrajin mebel ukir jepara yang ahli dan profesional dibidangnya, kontruksi pembuatan dengan pengawasan ketat sehingga menghasilkan produk kami berkualitas, kami juga memproduksi furniture interior dan eksterior kursi tamu , kursi makan , kursi teras , kursi tamu minimalis , kursi makan minimalis , sofa, dipan ukir, dipan minimalis , tempat tidur ukir , tempat tidur minimlais , lemari pakaian , lemari minimalis , bufet , bufet minimalis , cradensa , meja rias , tolet , rak buku , kursi sudut , bangku , bale bale , nakas , kursi goyang , partisi / penyekat ruangan , meja telepon , sketsel , mimbar , jam hias , gebyog , kaligrafi , lemari pajangan , relief , kamar set , kitchen set , dan semua perabotan rumah tangga yang anda butuhkan . juga sanggup melayani pesanan mebel : Mebel Kayu Jati, Mebel Ukir, Mebel minimalis, Mebel Modern, dan Mebel ukir jepara lainnya. jadi percayakan furniture rumah, kantor, hotel anda karna kami adalah ahlinya. Warna Finishing Ukiran Garuda Kayu Warna Finishing Ukiran Garuda Kayu Menggunakan Finishing Melamin Warna Salak Brown Tua Glossy Yang Memberikan Kesan Elegan Pada Ukiran Garuda Kayu Tersebut, Warna Finishing Ukiran Garuda Juga Dapat Dipesan Dengan Berbagai Warna Finishing Yang Lain Yang Kami TawarKan Sesuai Selera Anda Tentunya Dengan Kualitas Yang Tetap Terjaga. Keungulan Produk Ukiran Garuda Kayu Mebel Ukir Jepara : Keungulan Produk Ukiran Garuda Kayu Mebel Ukir Jepara merupakan hal yang sudah menjadi tugas utama bagi para pengrajin dan pengusaha Mebel Ukir Jepara. kenapa Mebel Ukir  Jepara selau mengedepankan totalitas dan kualitas ? karena kami tahu akan keinginan dan keibutuhan anda sebagai konsumen yang selalu ingin mendapatkan pelayanan yang terbaik, kualitas yang terbaik, kenyamanan dan penampilan exclusive dalam desain ruangan anda. Untuk proses produksi atau pembuatan Mebel Ukir Jepara, pengrajin mengandalkanKayu Jati ciri khas Jepara. karena penggunaan Kayu ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. maka dari itu kami tahu akan kwalitas dan keinginan yang selalu kami jaga. hanya kenyamanan dan keinginan pemakainya kami prioritaskan. Jadi sudah seharusnya para konsumen yakin akan...

Ukiran GarudaUkiran Garuda Kayu Desain Nasionalis Elegan Mewah Berkualitas

Ukiran Garuda 2.5 Dimesi Ukuran 100 cm x 90 cm berbahan dasar kayu jati solid dengan desain nasionalis elegan mewah berkualitas, sangat cocok untuk mengisi ruang kantor, rumah, hotel instansi-instansi pemrintahan , memberikan suasana elegan nasionalis mewah modern pada kantor, rumah hotel, ,

Ukiran Garuda Produk Pengrajin Mebel Ukir Jepara Berkualitas

Ukiran Garuda dikerjakan oleh pengrajin mebel ukir jepara yang ahli dan profesional dibidangnya, kontruksi pembuatan dengan pengawasan ketat sehingga menghasilkan produk kami berkualitas, kami juga memproduksi furniture interior dan eksterior kursi tamu , kursi makan , kursi teras , kursi tamu minimalis , kursi makan minimalis , sofa, dipan ukir, dipan minimalis , tempat tidur ukir , tempat tidur minimlais , lemari pakaian , lemari minimalis , bufet , bufet minimalis , cradensa , meja rias , tolet , rak buku , kursi sudut , bangku , bale bale , nakas , kursi goyang , partisi / penyekat ruangan , meja telepon , sketsel , mimbar , jam hias , gebyog , kaligrafi , lemari pajangan , relief , kamar set , kitchen set , dan semua perabotan rumah tangga yang anda butuhkan . juga sanggup melayani pesanan mebel : Mebel Kayu Jati, Mebel Ukir, Mebel minimalis, Mebel Modern, dan Mebel ukir jepara lainnya. jadi percayakan furniture rumah, kantor, hotel anda karna kami adalah ahlinya.

Warna Finishing Ukiran Garuda Kayu

Warna Finishing Ukiran Garuda Kayu Menggunakan Finishing Melamin Warna Salak Brown Tua Glossy Yang Memberikan Kesan Elegan Pada Ukiran Garuda Kayu Tersebut, Warna Finishing Ukiran Garuda Juga Dapat Dipesan Dengan Berbagai Warna Finishing Yang Lain Yang Kami TawarKan Sesuai Selera Anda Tentunya Dengan Kualitas Yang Tetap Terjaga.

Keungulan Produk Ukiran Garuda Kayu Mebel Ukir Jepara :

Keungulan Produk Ukiran Garuda Kayu Mebel Ukir Jepara merupakan hal yang sudah menjadi tugas utama bagi para pengrajin dan pengusaha Mebel Ukir Jepara. kenapa Mebel Ukir  Jepara selau mengedepankan totalitas dan kualitas ? karena kami tahu akan keinginan dan keibutuhan anda sebagai konsumen yang selalu ingin mendapatkan pelayanan yang terbaik, kualitas yang terbaik, kenyamanan dan penampilan exclusive dalam desain ruangan anda.

Untuk proses produksi atau pembuatan Mebel Ukir Jepara, pengrajin mengandalkanKayu Jati ciri khas Jepara. karena penggunaan Kayu ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. maka dari itu kami tahu akan kwalitas dan keinginan yang selalu kami jaga. hanya kenyamanan dan keinginan pemakainya kami prioritaskan. Jadi sudah seharusnya para konsumen yakin akan kwalitas Produk Ukiran Garuda Mebel Ukir Jepara.

Ukiran Garuda Dan Sejarah Perancang Lambang Garuda Pancaila

Perancang Lambang Garuda Pancasila, Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama ‘Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia — walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Pendidikan dan Karir Perancang Lambang Garuda Pancasila
Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalimantan Barat dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Menteri Negara dan Peristiwa APRA

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.

Perumusan Lambang Negara (Garuda Pancasila)
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Hamid II diberhentikan pada 5 April 1950 akibat diduga bersengkokol dengan Westerling dan APRA-nya.
Blog dengan ID 26250 Tidak ada


Masa Akhir Perancang Lambang Garuda Pancasila

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. Belanja Mudah Tanpa Keluar Rumah Harga Murah Kualitas Mewah Jaminan Kemanan Dan Kenyamanan Bertransaksi Terpercaya Produk Mebel Ukir Jepara Berkualitas Ukiran Garuda.

 

 

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.